Tampilkan postingan dengan label FF Rangkat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF Rangkat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Januari 2011

Orang Gila Dari Balik Jendela

>> Ramdhani Nur <<

balik jendela

Orang gila yang selalu kulihat dari balik jendela ini adalah ibuku. Begitu menurut cerita orang-orang yang merawatku. Aku ingin tak memercayainya, tapi kisah yang sering terlontar tiap kali orang gila itu mondar-mandir di depan jendelaku begitu meyakinkan. Katanya wajahku mirip dengan dia. Wanita yang pernah begitu cantik. Terutama pada saat dia menikah dengan seseorang yang mungkin adalah ayahku. Pernikahannya tak lama, tak sampai setahun. Katanya, ayahku bermain gila dengan perempuan lain saat usiaku masuk bulan ke tujuh di dalam kandungannya. Ibu marah besar. Ibu sangat membenci ayah, ibu juga membenci peninggalan ayah dalam perutnya. Entah apa yang diperbuat ibu padaku, yang jelas tak sampai sebulan sejak peristiwa perselingkuhan itu aku terlahir. Bagian kisah inilah yang meyakinkanku jika aku adalah anaknya. Karena tiap kali dia terlihat dari balik jendela ini, aku selalu kesulitan untuk sekadar melambaikan tanganku yang bergerak begitu kaku, atau sapaanku yang tak pernah jelas terucap sebagai sebuah suara.
****
Bandung, 18 Desember 2010
*gambar diambil dari www.istockphoto.com


** Cerita aslinya ada di sini

Kotak Musik : Lullaby

>> Arif Hidayat <<


Prosa

Hapus Teman | Kirim Pesan

Arif Hidayat

yeehhaaaaaahhh..... udah gak kebalik lagiii :)

Kotak Musik : Lullaby

FIKSI | 18 December 2010 | 16:48 85 50 3 dari 5 Kompasianer menilai Inspiratif
12926644051663298767
Ilustrasi/surga-kaki-pelangi.blog.friendster.com


.
[Jakarta, 2010]
.
Kepulan asap rokok masih menemaniku. Terselip dari sela-sela bibir dan barisan gigi yang menguning. Lincah tanganku memainkan rokok yang terselip di jari. Meski tak selincah badanku yang sedikit gemuk, teronggok berat di atas sofa. dalam balutan gaun ketat yang agak terbuka. Namun malah semakin tidak memperindah penampilanku. Tak peduli, penampilan bagiku tak penting. Yang penting penampilan mereka, barisan gadis belia yang menunggu takut. Menanti kata vonis dariku.
.
“Siapa namamu?” tanyaku pada gadis terakhir yang ku seleksi hari itu. Dalam pencahayaan yang tak seberapa terang itu, aku masih bisa mengenali manis wajahnya yang sedikit terlihat lugu.
“Sabrina, Bu,” jawabnya sambil tertunduk, aku pun ikut tertunduk. Nama itu mengingatkanku pada kenangan lama yang sudah kulupakan.
“Berapa umurmu? Dan satu hal! Jangan panggil aku ibu, aku bukan ibumu! Panggil saja aku Mami, seperti yang lain.” Sambungku ketus sambil berusaha menguasai keadaan. Aku paling tidak suka dipanggil dengan sebutan itu.
“18 tahun, Mami.”
“Mmm, bagus. Masih perawan?” tanyaku menyelidik.
Dia hanya terdiam. Jelas nampak terlihat risih dengan pertanyaanku. Kulirik salah seorang asistenku. Dia Paham maksudku. Sedikit pendekatan rasanya perlu untuk gadis itu.
“Hei, Sabrina! Kalau ditanya Mami, kamu harus jawab!” bentak asistenku tanggap.
“Ma.. masih, Mami,” jawabnya seraya takut. Masih bercampur ekspresi risih tadi. Ah, aku suka melihat emosi seperti ini. Dan jawabannya tadi yang membuatku lebih merasa senang. Tentunya akan ada harga khusus yang bisa kumanfaatkan untuk ini.
“Periksa barang bawaannnya!”
Perintahku langsung disambut segera oleh asistenku. Aturan ini kuberlakukan kepada semua anggota baruku. Aku tak ingin mereka menyimpan barang-barang yang berbahaya. Alat komukasi seperti HP termasuk salah satunya. Setidaknya selama 3 bulan pertama mereka tak boleh melakukan komunikasi sama sekali ke luar. Bisa berbahya bagi bisnisku kalau mereka ‘bernyanyi’.
“Apa ini?” tanya asistenku ketika mendapati sebuah kotak berwarna coklat tua .
“Ini kotak musik milik saya, Pak. Saya mohon jangan disita. Ini satu-satunya pemberian Ibu saya” gadis itu memohon .
“Biar kuperiksa dulu!” balas asistenku. Dengan cekatan ia membuka kotak itu.
Alunan melodi terdengar dari kotak itu. Lullaby. Sebuah pengantar tidur. Pikiranku nanar. Entah apa yang membuatku merasa seperti dunia ini berhenti. Kulangkahkan kakiku keluar ruangan itu. Meninggalkan tanda tanya di raut asistenku yang tidak mengerti dengan sikapku. Aku tak peduli. Aku pun tak tahu apa yang harus kuperbuat. Sungguh aku tak tahu.
*
[Jawa Barat , 1999]
.
“Bu… Ibu mau kemana?”
“Ibu mau pergi, ‘nak. Kamu baik-baik ya sama bapakmu.
“Enggak boleh! Pokoknya Ibu enggak boleh pergi!”
“Sayang, maafkan Ibu ya. Ibu terpaksa harus pergi. Ibu dan Bapakmu sudah tidak bisa bersama lagi.”
“ Tapi, Bu…”
“Nak, dengarkan Ibu, ya. Ibu enggak mau meninggalkan kamu. Tapi Ibu harus. sekarang kamu sudah besar ‘nak. usiamu sudah tujuh tahun. Ibu yakin kamu akan baik-baik saja sama Bapakmu. Jadi anak yang baik. Ibu sayang Kamu, ‘nak.”

Masih kuingat perpisahan itu. Tangis anakku. Lullaby yang mengiringi sore itu. Dan sebuah kotak musik berwarna coklat tua yang kuhadiahi padanya. Terukir namanya, ‘Sabrina’.
.
Salam
.
Catatan : kisah ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat, hanya kebetulan saja… :)
.
**Cerita asli ada di ladang ini

Gara-Gara Bola (3)

>> Syamsinar <<


1292651327214623516
“Urusan bola, sangat sensitip, Pap, bahkan polisi pun susah ngaturnya.  Kemarin, di Tv banyak yang benjol kepalanya, cuman gara-gara bola.“
“Ah kamu, dinasihati, malah ngeyel!”  kesal papa.
“Ipul.. Ipul, ayo kita main!” Terdengar suara Rani anak tetangga sebelah, meski perempuan, tapi dia jago main bola.
“Eh, itu pasti Rani. Tunggu sebentar,  saya ambil bolanya dulu!”   Ipul  lari mengambil bola lalu pamit, ” Pap… aku pergi main!”
“Hei, Ipul tidak boleh pergi, nanti  kamu berantem juga sama Rani.”
” Tidak, kok, Pap!  Rani, kan, bukan saudara Ipul.”
Nyengir,  Ipul  melesat ke luar rumah. Papanya hanya bisa melongo.
Tak lama kemudian, Ipul masuk ke rumah. Jalannya pincang dan matanya sembab habis menangis!
“Akhirnya berantem juga sama Rani, ya?”
” Nggak, Pap..! Saya gak pukul Rani, tapi Rani yang pukul saya!”


* iseng lanjutkan cerita Bang Ma’mar. :)
Ilalang, Soroako, Ceritaku.


*** Tulisan asli ada disini

Sms Ibu

>> Uleng Tepu <<
 

minjem dari om gugle

Titit…titit… getaran handphone mengalihkan pandanganku dari tumpukan berkas hasil tender yang baru dibawa oleh Nia, sekretarisku.
Nak, ini Ibu pakai nomor lain. Ibu sekarang di rumah sakit. Habis nabrak orang. Hp ibu kehabisan pulsa, tolong kirimin pulsa.
Pesan singkat itu berasal dari nomor yang sama sekali tak kukenal. “Ah, ini paling penipuan seperti yang diberitakan media-media beberapa waktu silam,” batinku sambil memilih opsi delete. Bodoh benar si Ibu yang berniat menipu ini, modusnya sudah terendus.
Sejam kemudian handphoneku kembali menerima pesan yang sama.  Dikiranya aku bodoh. Penipu kok ditipu?
Jam lima sore, tubuh lelahku  kusandarkan di sofa.
“Mas, Ibu sekarang ada di kantor polisi. Tadi pagi nabrak orang. Orangnya meninggal di rumah sakit,” istriku yang sedang memberi makan anakku berbicara tanpa menatapku.
Dasiku yang belum kulepas terasa makin sempit.

================================
Weekend dengan ide yang menguap…
Mas Dhani…masuk tema ga ya…?   :)


** Tulisan ini ada di beranda Uleng

Gara-Gara Bola

>> Ramdhani Nur <<
 
bola

Subuh dini hari ini, pertandingan sepak bola di tv seru sekali. Barcelona kontra Real Madrid. Sajian yang tak mungkin saya lewatkan. Dan memang tak terlewat. Tepat beberapa menit sebelum pertandingan dimulai saya dibangunkan istri. Secangkir kopi juga cemilan yang dibelinya semalam sudah tersaji. Cuma sebentar istri saya menemani. Entah ke dapur atau kembali tidur, sebelum berlalu dia hanya mengingatkan saya untuk menjemput si sulung pulang dari study tour menjelang siang nanti. Sementara dia mesti mengikuti rapat dewan guru di kabupaten.
Gooolll! Ya, hahaha! Villa mencetak gol! Kedudukan 2 - 0 sekarang. Dan tak perlu menunggu lama lagi, gol-gol lain pun tercipta. Sungguh saya benar-benar puas. Tim favorit saya menang telak. Permainan mereka pun sangat indah. Dua jam berlalu seakan tak terasa, pertandingan pun usai. TV lalu saya matikan. Entah jam berapa saya tertidur, tapi saya tahu persis saat terbangun. Pukul 11 lebih lima. Itu karena suara dari pintu rumah yang terbuka dan si sulung yang ngomel tak jelas di depan ibunya.
“Tu kan, Papa masih tidur! Asri udah telepon berkali-kali tapi nggak diangkat. Mama nggak percayaan sih…!”
****
Bandung, 17 Desember 2010
*dasar bapak!
*gambar diambil dari www.eleonoramarshya.blogspot.com


**Tulisan asli ada disini

Berkelahi

>> Syamsinar <<


“Ah, biarin. Rasakan sekali lagi pukulan godam ku, hyaattt duarrr!”
“Huuuuuu… kakak jahat, sakit tau, liat kepala Dede berdarah!”
“Neh, kutambahkan tendangan maut, biar kamu mampus sekalian!”
“Aaaahhh, jangannn… Dede belum mau mati, Kak Alief!”
Suara Dede yang sedari tadi ribut, membuat ibunya lari terbirit-birit dari dapur!
“Loh, Dede apamu yang berdarah tadi, Nak ?”
“Kepala Dede kena godam Alief!”
“Mana, coba lihat!”
“Tuch.. Di layar tv tertulis “Game Over.”
“Horrrreeeee…menangg….!” Alief teriak  riang.

Ilalang, Soroako, Ceritaku
PS. Maaf, lagi belajar, tidak cukup 100 kata, apa ini termasuk FF ?

**Cerita aslinya ada disini 

Ibu

>> Ma' Mar <<

“Dia menyiksaku dan adik saat kecil. Melontarkan kata-kata kotor dan menghina. Begitu membenciku dan adik. Ibuku artis yang suka kawin. Hanya cinta pada anak dari suaminya sekarang. Aku mau menuntutnya ke meja hijau.”
Suara itu keluar dari seorang remaja 19 tahun di depan wartawan. Bersama dua adiknya dia tinggal di rumah pengacara karena trauma dengan ibunya. Sudah seminggu dia tinggal di sana dan wartawan selalu setia meliput.  Proses persidangan masih berlangsung.
“Bukankah dia wanita yang melahirkanmu?”
“Benar. Tapi bila anda tahu apa yang aku alami, tidak pantas dia dipanggil ibu. Binatang saja sayang pada anaknya. Dia tidak.”
*
Malamnya remaja tadi mendapat sms.
“Bagus, nak. Aku lihat kamu di infotaiment baru saja. Untuk menjadi artis memang harus begitu. Terus maki aku di depan kamera. Sebentar lagi pasti ada produser yang menawarkan bintang iklan. Jangn lupa hapus sms ini. Mama.”
*****
17 Desember 2010
Menjawab tantangan Bang Arif Hidayat bikin ff
semoga layak dibilang ff


** Asal tulisan ada disini

Tangis Ibu

>> Ramdhani Nur <<


“Ibu nangis terus, Pak!”
“Biarlah, Gus!”
“Lha…apa Bapak ndak kasihan sama Ibu?”
“Ya, kasihan! Tapi mesti gimana lagi, Bapak sudah ndak bisa lagi ngebujuk ibumu.”
“Saya juga ndak bisa, Pak! Ibu kayak yang sedih betul. Apa gara-gara kita ndak ngajak Ibu pergi ke Semarang nengok Mas Slamet?”
“Ndak juga! Lha wong ibumu bilang ndak dapet ijin cuti dari pabrik.”
“Kasihan Ibu…”
“Sing sabar ae, le!”
Seorang wanita paruh baya dibujuk keluar dari kamar itu. Tangisnya tak henti meraung. Dua mayat yang terbaring di sana adalah benar suami dan anak lelakinya. Korban kecelakaan maut bis antar kota siang tadi.
****
Bandung, 17 Desember 2010
*Mencoba kembali FF singkat



Awal tulisan ini disini

Maaf, Aku Ada Di Antara Kalian

>> Triansyah Pj <<

Kubawa nampan makananku mengelilingi resto cepat saji ini. Selalu saja aku kalah. Terlambat lima menit saja, bisa tidak kebagian tempat duduk. Kulemparkan pandangan ke seluruh ruangan. Ah… hay… ada satu bangku kosong di dekat pintu keluar.
Eng ing eng…. Langkah pun berayun menuju kesana.
“Sorry, bang… ada orangnya. Tuh lagi cuci tangan…” kata mbak manis di kursi sebelah.
“Ooohh……….” Oh-ku yang pasrah.
Putar badan balik kanan, cari tempat melabuhkan pantat. Nasib baik, jarak tiga meja ternyata ada dua kursi kosong.
Cepat…., cepat……!! Yess, akhirnya satu kursi kudapat, tapi ternyata kursi itu basah dan kotor. Ada sisa saus Tomat menempel dengan anggun. Kursi satunya pun sama, tumpahan es krim menggenang disana. Hmm, pantas saja kursi-kursi itu kosong.
“Coba di sebelah sana, bang….. sudah agak kosong, tuh…” sapa pelayan seraya menunjuk sudut di dekat jendela.
Yup, benar. Di pojok dekat jendela, terhalang rimbun pohon Palem kecil. Meja dengan empat buah kursi. Dua kursi telah terisi, dua kursi masih kosong. Sepasang ABG duduk bersebelahan. Cuma dua gelas jus Alpukat diatas meja. Tanpa makanan, tanpa penganan.
Dua ABG menyambutku dengan cemberut. Acara saling pegang tangan seketika terputus. Sang cewek menarik tangan dengan muka berona merah. Si cowok tergagap dengan muka kurang ramah. Aku hadir tanpa mereka duga. Sialan ini orang, mungkin begitu umpat mereka.
“Permisi……………” Sapaku ramah, kulabuhkan pantat di kursi seberang si cewek.
“Yuk, makan yuk…” ajakku ramah pada keduanya.
Tidak ada sahutan, yang ada hanya tatapan sinis dari si cowok. Ah, peduli amat. Ini tempat makan, bukan tempat orang pacaran. Maaf yah kawan, aku hadir diantara kalian. Bagiku sekarang waktunya makan. Reality show pegang tangan kalian di selang iklan sebentar.


** Tempat ngintip cerita ini

Aku Tak Bisa Melamarmu

>> Triansyah Pj <<


Malam Minggu di penghujung tahun, di teras rumah kontrakannya Santi. Di remang sinar lampu yang temaram, yang seolah enggan memberi penerangan. Santi dan Joni duduk berduaan dalam kebisuan yang canggung. Pertemuan kembali dua insan setelah tiga tahun berpisah.
Santi memandang Joni penuh keheranan. Banyak perubahan pisik yang terjadi pada sang kekasih. Wajahnya kini putih bersih bak pualam, suaranya pun merdu dan menggairahkan. Sangat berbeda dengan tiga tahun silam, saat wajahnya masih hitam kumal, dengan suara serak yang bikin mual.
Kembali Santi teringat ucapan Joni sewaktu pamit padanya tiga tahun lalu.
“Santi, setelah kehidupanku mapan nanti, aku akan datang untuk melamarmu jadi istriku.”
Santi kembali menatap wajah Joni lekat-lekat. Pelan Santi berucap memecah kebisuan.
“Jon, bertahun sudah aku menunggumu, buktikan janjimu. Segera lamarlah aku…”
Joni diam sejenak, lalu dengan suara yang nyaris tidak terdengar Joni menjawab.
“Santi, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janji itu. Aku tidak bisa melamar dan menikahimu…”
“Kenapa Jon? Apakah kau ragu dengan kesetiaanku…?” Suara Santi tercekat.
“Tidak, Santi. Sungguh kesetiaanmu tidak pernah kuragukan” Joni menjawab penuh kegalauan.
“Lalu kenapa? Apakah engkau sudah menikah dengan wanita lain” suara Santi mulai histeris.
“Aku tidak punya wanita lain. Sungguh..!!” Joni meyakinkan Santi.
“Lalu kenapa? Kenapa Joooonn…???” Kali ini Santi sudah mulai tidak terkendali.
“Karena sekarang aku bukanlah Joni, aku adalah Jeni. Aku sudah operasi ganti kelamin….” Jeni menunduk ketakutan.
“What…??!!” Santi tiba-tiba jatuh terkapar.
“Santi…. Jangan dulu pingsan dong… Eike akan jelaskan…. Santi… iiihh, sebel deh eike…. Baru mau dijelasin udah loyo…. Sebbeeeelll….” Jeni berteriak histeris.



**Dapat diintip juga disini  klik yaa...

Rabu, 05 Januari 2011

Pass !!

>> Uleng Tepu <<

Setengah sembilan, weker dalmatian di kamar mengonggong nyaring. Nona setengah sadar masuk ke kamar mandi. Mata beratnya dibawa serta. Byur…byur sepuluh menit beres. Rok krem yang terlipat rapi di atas kursi menjadi pilihan hari ini.

roknya minjem dari www.clipartof.com
roknya minjem dari www.clipartof.com
Sreet, bunyi resleting ditarik. Rok krem pas di tubuh. Nona terpaku.
“Sepertinya program penggemukanku sebulan ini berhasil”, gumamnya. Rok yang biasanya kedodoran dan miring kiri-kanan kini manis menggantung di tubuhnya. Dilihatnya pipi putihnya  sedikit mulai berisi. Nona tampil cantik.
“Teman-teman takkan mengejekku kurus lagi. Badanku sudah berisi”.  Riang langkahnya menuju kampus. Teman-temannya heran, Nona yang biasanya jutek kini riang.

Setengah empat sore, Nona berdiri di depan timbangan badan masih menggunakan rok kremnya. Ibunya berjalan mendekat.
“Roknya pas ya, sayang?”
“Iya Bu, pas.”
“Syukurlah…sudah Ibu jahit kemarin dua sisi di pinggangnya”.
.



Bisa juga dibaca di halaman Uleng

Wanita Maya

>> Triansyah PJ <<



Pukul sepuluh pagi. Kafe Nuansa Hijau, Plaza Senayan.
Satu jam sudah waktu berlalu dari janji pertemuan, namun Lidya belum juga datang. Jarum jam seolah mengejek dan menertawakan. Menunggu memang selalu menyakitkan. Cangkir ketiga cappuccino pun tandas. Asap Marlboro mengepul mengabutkan pandangan.
Hans masih menanti. Menanti Lidya datang dengan atasan blazer putih. Hari ini mereka akan bertemu didunia nyata. Untuk saling mengungkapkan cinta yang sebenarnya cinta.
Dua bulan sudah perkenalannya dengan Lidya di dunia maya. Lidya, wanita yang telah menerbangkan angan dan mimpinya. Yang telah menjadikannya lupa pada apa yang harus dilakoninya didunia nyata. Wanita yang menurutnya begitu sempurna.
* * * * * *
Starbucks Coffe, Plaza senayan, sebelah kafe Nuansa Hijau.
Wanita berblazer putih itu diam membisu. Tidak ada yang tahu, sudah satu jam dia duduk disitu. Mengamati dari kejauhan lelaki yang menanti di kafe sebelah. Hatinya hancur oleh sebuah kata, kesetiaan.
Dari sisa ketegaran yang berserakan, wanita berblazer putih itu masuk ke kafe Nuansa Hijau. Anggun langkahnya sedikit gontai karena kecewa. Hans terpana saat wanita berblazer putih datang menghampiri. Dia adalah tunangannya yang bulan depan akan dia nikahi.
“Akulah wanita bernama Lidya itu, dan aku lah yang sudah hadir di dunia mayamu sejak dua bulan lalu….” Tatapan mata Pemi tajam menusuk Hans.
“Pemi……, jadi kamu adalah…… Lidya itu….?” Hans tercekat.
“Benar, Hans. Aku adalah Lidya itu. Terimakasih untuk semua yang telah kau beri. Rasa ini telah cukup mengerti sebatas mana kesetiaan itu ada diantara kita, selamat tinggal” Pemi berlari menyembunyikan tangisnya yang tertahan.
Hans terdiam tak bisa berkata apa-apa. Kesadarannya hilang bergantikan kalut, dicobanya mengejar Pemi. Tangannya replek menjatuhkan cangkir cappuccino.
Praang…. Cangkir hancur berkeping di lantai, seperti hancurnya hati Pemi.
“Pemi………..!!” Hans berteriak dalam galau.


Bacanya bisa di sini juga lho...

Mata Nada

mata dari siraitbrothers.blogspot.com
mata dari siraitbrothers.blogspot.com



>> Uleng Tepu <<



Seperti hari lalu, ayah begitu tekun dengan pekerjaannya. Mengirim laporan via email kepada bossnya. Komputer tua tidak pernah menggerutu menemaninya menghabiskan malam. Begitu tekun.

Kemarin…
“Nada, kok bangun? mau kemana, Nak?”.
“Mau pipis, Bu”.
Ayah masih betah duduk di depan komputer bututnya.
“Ayah, Nada mau pipis”. Layar komputer berubah warna putih penuh tulisan.
“Sini sayang, ayah temani”. Ada yang berkedip di komputer.
Kembali ayah menatap layar segi empat. Aku menguap. Layar komputer berubah. Ehh….??

Malam ini…
Adik sakit, panasnya tinggi. Ibu tak bisa jauh darinya. Tangisnya akan menghiris jika ibu beranjak.  Hanya usapan lembut ibu dan ASI yang mampu menenangkannya.  Malam mulai larut, aku pura-pura tidur sambil mendengar percakapan ayah dan ibu.
“Ayah, kok selarut ini belum tidur?”.

[Shutt down]

“Bu, saya harus mengerjakan pekerjaan proyek. Via e-mail kata bos”
“Iya, pekerjaan Ayah selesaikanlah. Anak kita butuh uang ke dokter”. 
Ayah berbaring disampingku. Matanya tidak mengatup sempurna. Dipeluknya tubuhku. Bayangan usai shalat magrib tadi kembali tersaji.
Komputer berkedip, kata “sayang” t erkirim



Bacanya juga bisa di sini

Lelaki di Seberang Maya

>> Andi Harianto <<

Seperti kemarin. Hari ini, juga lusa. Keindahan mu hanya bayang.  DIRIMU, selalu yang melintas. Kutakut pagiku, karena malam membuatku lalai. Aku akan terus menyapamu. (chat box)
“Ayah! Kok, selarut ini engkau belum tidur?”
Turn Off Computer.
1291737568885788406
Rizal, bersegera masuk ke kamar. Empat anaknya sudah lelap tertidur. Si Bungsu, mengigau
“Bu, saya harus selesaikan pekerjaan proyek. Via email kata bos”.
“Iya, pekerjaan Ayah. Selesaikanlah. Anak kita butuh uang ke dokter”
Dialog berhenti. Nila istrinya, lelah. Kembali tertidur. Sedari tadi si bungsu rewel. Demamnya tinggi. Rizal pun memaksa diri terlelap. Bayangnya bercabang. Ada pesona gadis chat, pada yang mengaku perawan. Putri kecilnya sakit. Tidurnya diantar khayal maya. Semu, ekstase. Fasad.
*****
Lalu, di seberang maya sana.
“Kok chatnya, diputus begitu saja. Ditutup gombal lagi” Dewi bersungut jengkel.
A network cable is unplugged. Shut Down

Dewi pun masuk kamar. Lelah dia, dengan hidupnya. Dia dan dua anaknya ditinggal pergi suaminya. Juragan Karet.



Baca juga di halaman ini

Ijab Qabul

>>> Uleng Tepu <<<




Lantunan nasyid lembut mengalun. Setengah jam lagi akad nikah. Bisa kubayangkan bagaimana tegangnya lelakiku di luar. Sebentar lagi ia mengucap ijab qabul.


Ibu masuk ke kamarku.
“Dizty, kamu sudah siap, Nak?”
“Insya Allah, Bu.”

Kuingati beda antara aku dan dia. Dia rupawan, aku ah… kenangan malam kebakaran dua tahun lalu membuatku bersyukur dengan wajahku yang katanya cantik. Dia seorang hafidz, penghafal Qur’an, sementara aku masih harus menambah rekaman juz amma di kepala. Dia pandai melukis meskipun dia tak sempurna,  sedang aku…sebuah garis lurus selalu patah di tanganku. Dia romantis, aku egois. Dia… Dia….dan Dia….

Dia adalah lelaki yang dipilihkan Tuhan untukku…

“Alhamdulillah, sah!” Kalimat itu jelas terdengar. Do’a dipanjatkan. Lelaki itu masuk ke kamar.Duduk di hadapanku. Aku memandangnya haru.
Tak satupun tangannya yang mampu kuciumi…
minjem dari noveloke.com


Singgah baca di halaman Uleng

Kuterima Apapun Dirimu

Oleh : Indri Permatasari


12919543161051042718Ada yang berubah dari paman petani sekarang, tak pernah lagi keluyuran bila tak terpaksa.Waktu selalu dihabiskan di rumah semenjak kedatangan tessa, paman memang jatuh cinta pada pandangan pertama, wajarlah, karena tessa memang menawan walaupun kulitnya tidak putih, tapi ,terawat, bulu matanya lentik dan tubuhnya montok. Paman selalu bersemangat bila bertemu dengannya, apalagi sejak kehamilannya, walaupun bukan darah dagingnya tapi paman tetaplah suka,tak akan segan paman bercerita tentang kesehariannya sambil sesekali mengelus kepala tessa dengan penuh kasih sayang, dan tessa pun hanya diam menatap paman dengan penuh cinta.
Ahh Hari ini paman sibuk dan gugup sekali, apa????ternyata tessa melahirkan…sayang anaknya lelaki… ahh tapi tak mengapa, paman tetap bersenang hati, ia pun menggendong dan memindahkan anak tessa ke tumpukan jerami yang lebih tebal dan hangat di samping ibunya yang cantik ……



Singgah baca juga di sini...

Love Emoticon

Oleh : Rizal Falih

12918599521816308208







Malam ini


Komputer dinyalakan, turn on power, booting, loading, connect dan open browser.
Tanganku mulai asik bermain diatas keyboard, tab pertama capture peta di google earth,
pekerjaan kantor yang sudah tiga hari tertunda.
Setelah jam di dinding tepat diangka 00.00,  Falih bangun dari tidurnya.
Badannya masih panas, aku pun meraskannya, duduk di pangkuanku lalu berkata,
minimize tab kedua, dashboard Kompasiana judul Mawar untuk Jingga.
“Papa besok Falih mau mandi bola”
“Tapi papa besok kerja sayang, hari minggu saja ya”,  aku usap kepalanya penuh kasih.
Close tab ketiga FB chat, love emoticon with Dewi Malam, reply “Met bobo sayang”.
“Tapi papa hari minggu kemaren tetap sibuk kerja di depan komputer”, suara polos kembali terdengar.
Aku terhenyak, log out, close all tab.
“Aku harus hentikan kegilaan ini, sebelum aku benar-benar gila”, aku bergumam sendiri.
Shut down.
SMS diterima,
“Mama pulang hari senin pa, jagain Falih ya, masih banyak pekerjaan disini”.
Lampu dimatikan, aku dekap penuh kasih anak semata wayangku, ada kehangatan yang nyata disana, bukan semu seperti dunia maya.
12918600551557615393
Falih dan mandi bola (Rizal,2010)
* Menjawab tantangan Uleng, Mommy dan warga Rangkat lainnya, dengan penuh emosi jiwa aku tulis FF (bukan ya?) ini ha.ha.ha., mohon masukan saran, kritik pedaz sekalipun, selamat Bekerja dan Berkarya.


Baca juga di sini

# Gelas Gelas Kaca #

Oleh : Sabrina Shellby


1291782506963011251



Sebulan lalu aku saksi bisu ketika dua hati menyatu, dua tubuh beradu. Bayang tubuh mereka meliuk liuk liar seirama. Saling memagut saling merenggut. Gairah merekageliatkan malam malam yang dingin. Nafasku memburu menyaksikan bagaimana gairah mereka saling membakar dari hanya merah  merona sampai menjadi merah tua. Dan hari hari pun berlalu. Kamar ini selalu beraroma cinta. Dan aku masih saja selalu tersipu setiap kali mereka beradu tubuh.

Namun kemarin, aku hancur berkeping keping. ketika hari hampir senja.Terdengar teriakan murka sang wanita.Mata indahnya mendelik delik  marah. Tubuhnya meronta ronta dalam pelukan sang pria. Tapi kali ini bukan pelukan cinta, Ini beda dari yang biasa. ini masalah hati yang tak terima ketika cinta di bagi dua… atau tiga…? Entah… sia sia usaha sang pria meredam murka. Ia menyerah. Menuju pintu dan berlalu. Sang wanita meradang liar menyerang. Di raihnya aku dengan amarah yang tersisa… lalu .. Prang!!! Akupun hancur berkeping keping di sudut kamar beraroma pilu.

Dan hari ini, aku menjadi pembunuh. ketika sang wanita dengan langkah gontai. Sorot mata kosong. Tak ada lagi pijar harapan.  Menghampiriku. Mengambil sekeping tubuhku. Memainkan aku sejenak dalam dingin jari jemarinya. Ada kilatan ragu di matanya. Tapi kemudian, ia mengores aku perlahan… Tepat di urat nadi kanannya. Kamar ini kini tak lagi beraroma cinta. Tapi anyir darah.


Dapat juga di baca di sini

# Kelam #

Oleh : Sabrina Shellby
129165964697261840




Tergesa-gesa Joni berlari dalam gelap. Sesuatu membuntutinya. Sangat dekat. Tak terjangkau mata pandangnya. Semakin mendekat. Nafasnya semakin memburu. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Tak kuat lagi kakinya berlari. Ia tersudut di ujung gang pasar tempat ia biasa mangkal. Sekelebat bayang itu tiba tiba mengayunkan sesuatu padanya.

*
Buk! Buk! Buk! Hantaman keras bertubi tubi mendarat di tubuh dan kepalanya dari belakang. Si preman pasar yang biasanya sangar buas itu  jatuh tersungkur tanpa perlawanan. Tanpa suara. Tertelungkup. Bersimbah darah. Bahkan tak sempat melihat wajah orang yang mengambil nyawanya secara brutal.
*
Di belakangnya. Seraut wajah dingin. sorot mata nyalang kelam. Masih memegang sebuah balok berlumuran darah. Wira, lelaki yang masih kanak kanak. 12 tahun saja  usianya tapi dendamnya sungguh telah tua. Matanya kerap menyaksikan sang bunda yang PSK di setubuhi, di tendangi, di ludahi bak benda mati hampir di setiap malam kelam.

Jadilah Koruptor

Oleh:  Ramdhani Nur

Suatu saat di dalam bis kota, saya tidak ingat kapan, tapi saya menyukai kejadian dan pembicaraan yang berlangsung dengan seorang penumpang di sebelah saya. Lelaki baya kantoran yang berkaca mata. Dalam pandangan saya dia adalah seorang nasionalis yang menggebu ketika perbincangan bergulat seputar kondisi negara dan pemerintahan saat ini.

“Kalau anda cukup kesempatan dan kedudukan, jadilah koruptor!” begitu kira-kira yang dia ucapkan selepas membaca headline di koran yang saya bawa. “Sial-sialnya anda akan tertangkap dan dihukum 10 tahun penjara. Tunggu saja beberapa tahun, anda akan bebas dan ada kemungkinan malah lepas dari predikat koruptor. Plus harta anda tak kan banyak berkurang.”
Saya tertawa mendehem.
“Saya lebih suka jadi jaksa kalau memungkinkan,” lanjut saya berseloroh.
“Oh… jangan! Jaksa itu jabatan mulia. Dalam konstalasi hitam dan putih, jaksa itu golongan yang putih. Dia membela kepentingan dan keadilan masyarakan. Kalau mau jadi bajingan ya bajingan saja jangan jadi malaikat yang bajingan. Hahaha!”
Saya ikut tertawa. Mungkin juga penumpang lain yang sempat mendengar.
“Lebih baik jadi polisi!” katanya kemudian.
“Dia bajingan atau malaikat?”
“Mereka itu manusia seperti kita. Bisa melihat hitam dan putih, bisa menjadi malaikat dan bajingan. Mereka cuma mencari penghidupan yang layak dalam isntitusi mereka.”
“Jadi mereka selama ini miskin-miskin?”
“Ya, makanya mereka sibuk menggendutkan rekening mereka.”

Tawa kembali pecah. Hampir lima belas menit kami berbincang dan sepertinya dia menikmati betul kehangatan percakapan ini. Sampai-sampai halte yang dia tuju pun hampir terlewat. Dengan tersenyum dan aura semangat yang tersisa dia kemudian turun.

“Jadilah koruptor!” salamnya sebelum benar-benar turun.

Lima menit setelah bis benar-benar melaju, saya baru berani mengeluarkan tangan saya yang saya tutupi koran sejak tadi. Sebuah dompet kulit coklat lengket di genggaman. Uang tunai 420.000 rupiah, beberapa kartu identitas dan atm tersangkut di dalamnya. Yah lumayan untuk satu hari itu. Satu hari yang berkesan


Ah, maaf Pak! Saya belum bisa jadi koruptor.
Cirebon, 26 Agustus 2010


Dapat juga dibaca di sini