Jumat, 07 Januari 2011

Taubatnya Sang Bocah Ingusan 1 (ECR 65)

Seorang lelaki siapkan diri hadapi mati
Merasa hidup tak ada arti
Cah ingusan menyerah buyarkan mimpi
Sambil memejamkan mata sang bocah melepaskan pijakan kakinya, yang kemudian membuat lehernya tercekik kencang oleh jeratan tali.
Kakinya mengejang, wajahnya mulai membiru dan matanya terbuka melotot. Tampak benar ia menahan kesakitan yang luar biasa.
Pandangannya mulai gelap, ketika ia merasakan tubuhnya jatuh terhempas keatas tanah. Ia tersengal sengal , nafasnya kencang memburu.
Ketika penglihatannya mulai kembali normal, samar samar ia melihat wajah wajah aneh mengelilinginya.
” Hah, ternyata rupa malaikat seperti ini?, beda tipis dengan kambing, mengapa tak kalian cukur jenggot kalian, bukankah disurga adalah tempatnya kerapihan dan keindahan? “
Wajah wajah itu tersenyum, sambil menggelengkan kepala.
” Wahai saudaraku, kami bukan malaikat, kami hanya manusia biasa, dan kau belum masuk ke surga, kau masih hidup, dan ketahuilah, kalau kau mati dengan cara begini, kau tidak akan masuk ke surga. Karena bunuh diri adalah dosa besar, yg sangat dibenci oleh Sang pemilik surga. Pasti ente dicemplungin dulu ke neraka. “
” Ah masa bodo lah, kayak kalian dah pernah mati aja.., jangan ganggu aku, biarkan aja aku mati.., hidupku sudah tak ada arti.”
Sang bocah menyambung tali yang tadi diputuskan oleh orang orang tak dikenal tersebut, dan kembali mengalungkan simpul tali ke lehernya.
“Ya sudah kalau kau tak percaya, selamat menikmati siksaan di neraka, tubuhmu akan dibakar hidup hidup sampai otakmu mendidih, sampaikan salamku pada malaikat penjaga neraka.”
Mendengar itu sang bocah mulai ragu meneruskan rencananya untuk bunuh diri, karena jeratan tali saja ia sudah merasakan kesakitan yang luar biasa, apalagi dibakar hidup hidup.., hiii… serem….
Sang bocah tertunduk.., air mata menetes di pipinya.
Sungguh malang nasibku ini
Hidup di bumi seorang diri
Jalani hidup tak berarti
Mati pun ku tak berani
Duhai Tuhan…. tolonglah diriku ini
Melihat kondisi sang bocah, rombongan lelaki itu pun merasa iba padanya.
Hapuslah air matamu dari pipi
Hidup terlalu singkat tuk ditangisi
Persiapkan diri sebelum mati
Jalani hidup berarti bersama kami
Mendengar ajakan tersebut, sang bocah tersenyum.
” Bersama kalian??, apa yang akan kalian kerjakan?, kalau kulihat dari tampang kalian, sepertinya kalian rombongan teroris yang dikejar kejar oleh polisi, aku tak mau terlibat. mendengar petasan aja aku udah takut setengah mati, apalagi ditembaki polisi, bisa bisa aku kencing berdiri.”
“Ha..ha..ha.., kami bukan teroris, orang orang menyebut kami Jamaah Tabligh, kami adalah hamba Allah yang sedang memperbaiki diri, belajar menghidupkan sunah Rasulullah berhijrah kekampung ini, berkorban sedikit dari harta, waktu dan diri kami, semata mata mengharapkan ridho Illahi, sempurnakan iman dihati kami, tuk kami bagikan pada anak dan isteri”.
Hmm…, sang bocah mengernyitkan dahi, hatinya tergelitik untuk mencoba bergabung bersama jamaah ini.
” Aku adalah manusia hina penuh dosa, seluruh penduduk kampung membenciku”.
” Allah adalah zat yang Maha pengampun, selagi kita mau bertaubat sungguh sungguh, dosa kita pasti diampuni”.
” Kalau aku ingin bergabung, apa syarat nya ?”.
” Kau hanya perlu mandi, badanmu bau sekali, kebersihan adalah sebahagian dari iman “
” Tak pakai biaya..??”
” Hanya untuk biaya makanmu saja, itupun kalau kau punya uang, kalau kau tak punya tak mengapa, saudara saudaramu ini dengan senang hati akan berbagi padamu”.
Setelah sang bocah mandi, ia diberikan sepasang baju ghamis berwarna putih dan sebuah kopiah putih dipasangkan di kepalanya. Sang bocah tersenyum, ia merasa dirinya seperti seorang ulama besar.
” Ingat saudaraku, tujuan kita berdakwah adalah memperbaiki diri kita sendiri, bukan untuk memperbaiki orang lain, kita hanya berusaha, urusan hidayah ada di tangan Allah, sekarang mari kita menuju ke masjid di kampung ini, kita harus meminta izin dulu dengan aparat desa, kau pasti tau dimana letaknya “.
Sang bocah menggangguk, dan memberi aba aba kepada rombongan agar mengikutinya ke rumah pak Kades, yang kebetulan letaknya berdekatan dengan masjid.
Ketika memasuki gerbang desa, sepasang mata Rizal sang wartawan mengawasi rombongan jamaah dengan curiga. Setelah menjepret beberapa kali, ia kemudian berlari memasuki kampung menuju ke pos ronda.
Warga desa Rangkat memandang sinis pada sang bocah, mereka merasa heran dengan penampilan baru sang bocah ingusan.
Beberapa gadis Rangkat yang sedang asyik bergosip ria mencibir pada sang bocah.
Dewi solihat : ” Hai bocah, baru kesambet geledek ya..?”
Dwi astini : ” Makanya cah.., jangan main main di hutan, tuh kan jadinya kesambet jin..”
D-wee : ” cuiit..cuiiiit.., cah ingusan jadi kyai euy.., awas jangan jadi kyai cabul ya..!! “
Zwan : ” hey bocil.., ntar malem godain aku ya.., pasti aku gak nolak..”
Mendengar cibiran cibiran gadis Rangkat sang bocah hanya tertunduk diam, ingin rasanya ia berlari lagi keluar kampung, namun hatinya dibesarkan oleh pimpinan jamaah agar ia bersabar. Ini adalah ujian.
Ketika melewati depan rumah jeng Pemi, sekilas mata sang bocah beradu pandang dengan mata dewa yang kebetulan sedang melongo di jendela. Gadis itu terkejut, namun ia hanya terdiam. Sang bocah menghampiri ke jendela.
” Maafkan aku Dewa…, Aku memang bersalah, aku tak pantas lagi berdekatan denganmu, aku kan selalu berdoa untukmu, mudah mudahan hidupmu bahagia selamanya bersama pria yang ada di dalam hatimu.”
Dewa hanya membisu. Tiba tiba dari dalam rumah muncul jeng Pemi berlari keluar sambil memegang seikat sapu.
” Dasar bocah gila, mau apalagi kau kemari…??, rasakan hadiah dariku..!! “.
Dengan membabi buta jeng Pemi memukuli cah ingusan dengan menggunakan seikat sapu lidi.
Sang bocah hanya berdiam diri pasrah.
Dari arah utara terlihat mas Hans datang bersama pak Thamrin. Dua sejoli ini selalu cepat tanggap mengatasi perkara yang terjadi di desa.
Mereka bersiap siap dengan pentungan nya membantu Jeng Pemi, namun ketika mereka melihat rombongan jamaah yang sebahagian memegang tongkat panjang, mereka tersentak kaget.
Jeng Pemi berteriak.
” Ayo tunggu apalagi mas Hans, hajar dia..!! “.
Mas Hans geleng geleng kepala.
” Ogah ah.., pentungan mereka lebih besar, bisa bonyok muka kami, jangan jangan mereka juga membawa bom…, takut ah…, ayo… lariiii…. “.
Akhirnya hansip hansip itu pun berlari menuju kerumah pak Kades.
Mendengar kata bom, jeng Pemi pun berlari masuk kedalam rumah nya langsung bertiarap di bawah kolong tempat tidur sambil berteriak.
” Tiarap Dewaaa………., ada booom…..!!!! “.
Dewa hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Jeng Pemi yang Ketakutan.
Warga pun menepi membiarkan rombongan cah ingusan melanjutkan perjalanan.
Dua orang Bu guru pun menyapa sang bocah,
Miss rochma : ” Nah.. begitu dong cah ingusan..,segera bertobat dan jangan berbuat onar lagi ya..!!, ntar ibu sunat lho..!! “.
Pricess E Diary : ” Jangan nakal ya cah…, kalau nakal nanti ibu jewer belalainya.., eh…telinganya..!! “.
Sang bocah pun hanya tersenyum sambil mengangguk anggukan kepala.
Disela perjalanan cah igusan bertanya,
” Mengapa kita harus berpenampilan aneh seperti ini..?? “
Sang pemimpin jamaah pun menunjuk kepada seorang warga yang kebetulan sedang duduk diseberang jalan. Rambutnya kribo, bercambang lebat, memakai pakaian bermanik manik gemerlap sambil bernyanyi dan memainkan gitar.
” Kau lihat orang itu..??, mengapa ia berpenampilan seperti itu..?? “.
” Karena ia begitu mencintai Rhoma Irama..!! “
” Nah begitulah manusia, cenderung meniru sesuatu yang menjadi idolanya. Nah.., sebaik baik idola Kaum Muslimin adalah Rasulullah SAW, makanya kita juga belajar mengikuti suri tauladan Rasulullah SAW dalam segala aspek 1 x 24 jam.
” Oooo…!! “
Cah ingusan hanya manggut manggut, kelihatan masih bingung tapi sok paham.
Ketika melewati pos hansip,tanpa sengaja sepasang mata sang bocah beradu pandang dengan seorang wanita berjilbab yang sedang duduk melamun seorang diri. Wajahnya begitu teduh dan keibuan. Sangat jauh berbeda dengan kebanyakan gadis Rangkat yang centil centil. Dia adalah Ningwang D Agustin, janda kembang yang baru pindah ke desa Rangkat.
Sang bocah memandang lekat dengan terpana. Dalam hatinya ia membathin ,
” Mudah mudahan aku mendapat jodoh seorang wanita shaleha seperti dirinya..”
Tiba tiba sebatang tongkat hinggap dikepalanya. ” TOKK..!! ” pimpinan jamaah memukulkan tongkatnya ke kepala sang bocah sambil membentak,
” Katanya mau bertobat.., kamu harus menjaga pandangan, tak boleh memandang wanita yang bukan muhrim.., dosaaa…!!!!!! “
Cah ingusan pun insaf, ia terus berjalan dengan menundukkan pandangan. Dalam hatinya ia berniat akan mendatangi sang janda setelah nanti program taubat nya selesai.
Ketika sampai didepan rumah pak Kades, ternyata disitu sudah ramai warga berkumpul. Rupanya berita kedatangan bocah ingusan bersama jamaah tabligh yang dikira teroris sudah tersebar keseluruh warga desa.
Dengan cermat pimpinan jamaah pun membuka suara.
” Assalamualaikum pak kades, kami satu rombongan dari desa sebelah, berniat silaturahim kepada saudara saudara kami di desa ini, dan kami minta izin untuk beritikaf di masjid ini selama 3 hari. kami hanya menjalankan program dakwah dan tabligh, dan tidak ada bermaksud lain”.
Pak kades tersenyum sambil manggut manggut,
” Oooo…., ternyata jamaah tabligh tho..??, saya kira teroris beneran, mas hans..!!, lain kali kalau bikin laporan yang bener, jangan asal main tuduh saja. Mereka bukan teroris, gerakan jamaah ini hanya berdakwah dan sudah memasyarakat di seluruh dunia. Mari pak.., silahkan..!!, saya sebagai kepala desa menyambut baik kedatangan anda anda sekalian, dan mudah mudahan bisa memberi manfaat bagi warga disini. terutama itu tuh.., bocah ingusan.., mudah mudahan ia bisa kembali ke jalan yang lurus, gak jadi tukang colek lagi..!! “.
Rombongan jamaah pun memasuki masjid dan disambut oleh mas Hikmat nugraha sebagai pengurus Masjid.
Selama 3 hari cah ingusan belajar ilmu agama dibimbing oleh jamaah tabligh. Mulai dari menghidupkan sunnah Nabi selama 24 jam, belajar kitab hadits, tajwid membaca Al quran, sambil belajar berdakwah.
Tibalah giliran sang bocah untuk menjadi pembicara dalam program dakwah pintu ke pintu. Tubuh nya gemetar karena harus mengetuk rumah besar milik Juragan Rawa yang terkenal sangar.
” Tok..Tok..Tok.. , Assalamualaikum….”
” Wa alaikum salaaam…!! “
Ketika juragan Rawa muncul didepan, sebagai adab yang muda kepada yang tua sang bocah pun cepat menyalami dan mencium tangan juragan Rawa, kemudian berkata,
” Alhamdulillah Gan.., Allah pertemukan kita sore ini. Ini adalah takdir dari Allah, karena tak sehelaipun daun di tengah hutan jatuh kebumi melainkan atas kehendak Allah. Sesungguhnya kita bersaudara, di ikat oleh kalimat Laa ilaa ha illallaah. Karena kita bersaudara maka ada hak dan kewajiban diantara kita, yaitu apabila jauh maka kita saling mendoakan.., apabila dekat maka kita saling bersilaturahim, kunjung mengunjungi, ajak mengajak perkara kebaikan dan ingat mengingatkan perkara akhirat. Kita hidup di dunia sebentar saja, suatu saat kita pasti mati. Di akhirat nanti kita perlu bekal yaitu iman dan amal shaleh. Saya sebagai yang muda banyak khilaf salah dan dosa, maka dalam kesempatan ini saya memohon maaf kepada Agan, agar tak ada tuntutan diakhirat nanti. Mari Gan, sekarang di masjid ada ceramah agama, kita sama sama belajar dan mendengarkan..”
Juragan Rawa yang masih terkejut hanya diam mendengarkan sambil mengangguk anggukan kepala pertanda kearifan yang ada pada dirinya. Tiba tiba ia tersenyum manis dan kemudian berjalan bergandeng tangan bersama sang bocah ingusan menuju ke Masjid.
Disaksikan oleh Pak Yayok, Mommy, Refo, Lala dan mas Hikmat nugraha.
Selesai sudah program 3 hari dari jamaah tabligh di desa Rangkat, tiba waktunya perpisahan yang memilukan. Setelah mendapatkan wejangan yang cukup panjang, akhirnya cah ingusan memeluk mereka satu persatu dengan berderai air mata.
“ Alhamdulillah.., mudahan Allah neridhoi kalian saudara saudaraku, terimakasih telah menunjukkan jalan yang lurus padaku. Kalian telah menyelamatkan hidupku di dunia dan akhirat”.
Dilepas oleh Pak Yayok, rombongan jamaah pun berlalu meneruskan perjalanan dakwah nya ke kampung berikutnya.
Sekarang cah ingusan telah memasuki babak baru kehidupannya, kemana mana ia selalu berpenampilan islami, dengan kopiah tak pernah lepas dari kepalanya, dagunya pun telah ditumbuhi beberapa helai janggut.
Disuatu pagi yang cerah, cah ingusan berjalan jalan keliling kampung, ada sesuatu dihatinya yang selalu terbayang setiap malam, sesosok wajah syahdu sebagai pelipur rindu.
Ditempat yang sama, di bangku pos ronda, sesosok makhluk indah sedang duduk termenung seorang diri. Kebetulan pagi itu sepi, para hansip baru aja pulang setelah ronda semalam suntuk.
Sang bocah duduk di bawah pohon rambutan tak jauh dari tempat Ningwang duduk. Teringat pesan dari sang ustadz, cah ingusan tak berani memandang wajah Ningwang, sang bocah memandang ke langit duduk membelakangi Ningwang.
Terdengar sayup sayup Ningwang melantunkan beberapa bait syair,
Sengaja aku merangkul sepi
Demi menjajaki makna diri…
Sudahkah aku berarti?
Sudahkah cinta ini memberi?
Sengaja aku merangkul senyap
Demi memaknai segala yang telah kuucap…
Adakah aku memberi harap?
Ketika asa erat mendekap
Dan kini…,
Aku dirangkul sepi,


Sang bocah meresapi lantunan kata kata yang mengalir dari bibir Ningwang, tanpa sadar cah ingusan membalas tembang Ningwang.
Dalam sunyi mencari nilai diri
Terjerat lalai terpenjara dalam mimpi
Sadari diri hampa cinta sejati
Hati binasa terbunuh sepi
Asa melayang hadirkan bayang bayang
Muncul sejenak semoga tak menghilang
Harapkan diri dapatkan kasih sayang
Bidadari surga yang bernama Ningwang
Menunggu mati di bumi yang sepi
Terasa hampa seorang diri
Izinkan aku wujudkan niat suci
Menyunting dirimu sebagai permaisuri
Ningwang terkejut mendengar suara dari arah belakang nya, ia menoleh dan melemparkan senyum penuh arti. Tak dapat menahan diri cah ingusan mengarahkan pandangannya pada Ningwang. Terasa angin surga berhembus, dunia terasa damai, alam semesta bernyanyi riang. Cah ingusan gemetar, jantung nya berdegup keras serasa mau copot.
Tiba tiba cah ingusan berdiri dan berlari kencang sambil berteriak,
“ Aku akan datang melamar muu…, Tunggu aku……!!!! ”.
——————————B E R S A M B U N G————————————————

Tags: desarangkat

Rabu, 05 Januari 2011

Pass !!

>> Uleng Tepu <<

Setengah sembilan, weker dalmatian di kamar mengonggong nyaring. Nona setengah sadar masuk ke kamar mandi. Mata beratnya dibawa serta. Byur…byur sepuluh menit beres. Rok krem yang terlipat rapi di atas kursi menjadi pilihan hari ini.

roknya minjem dari www.clipartof.com
roknya minjem dari www.clipartof.com
Sreet, bunyi resleting ditarik. Rok krem pas di tubuh. Nona terpaku.
“Sepertinya program penggemukanku sebulan ini berhasil”, gumamnya. Rok yang biasanya kedodoran dan miring kiri-kanan kini manis menggantung di tubuhnya. Dilihatnya pipi putihnya  sedikit mulai berisi. Nona tampil cantik.
“Teman-teman takkan mengejekku kurus lagi. Badanku sudah berisi”.  Riang langkahnya menuju kampus. Teman-temannya heran, Nona yang biasanya jutek kini riang.

Setengah empat sore, Nona berdiri di depan timbangan badan masih menggunakan rok kremnya. Ibunya berjalan mendekat.
“Roknya pas ya, sayang?”
“Iya Bu, pas.”
“Syukurlah…sudah Ibu jahit kemarin dua sisi di pinggangnya”.
.



Bisa juga dibaca di halaman Uleng

Wanita Maya

>> Triansyah PJ <<



Pukul sepuluh pagi. Kafe Nuansa Hijau, Plaza Senayan.
Satu jam sudah waktu berlalu dari janji pertemuan, namun Lidya belum juga datang. Jarum jam seolah mengejek dan menertawakan. Menunggu memang selalu menyakitkan. Cangkir ketiga cappuccino pun tandas. Asap Marlboro mengepul mengabutkan pandangan.
Hans masih menanti. Menanti Lidya datang dengan atasan blazer putih. Hari ini mereka akan bertemu didunia nyata. Untuk saling mengungkapkan cinta yang sebenarnya cinta.
Dua bulan sudah perkenalannya dengan Lidya di dunia maya. Lidya, wanita yang telah menerbangkan angan dan mimpinya. Yang telah menjadikannya lupa pada apa yang harus dilakoninya didunia nyata. Wanita yang menurutnya begitu sempurna.
* * * * * *
Starbucks Coffe, Plaza senayan, sebelah kafe Nuansa Hijau.
Wanita berblazer putih itu diam membisu. Tidak ada yang tahu, sudah satu jam dia duduk disitu. Mengamati dari kejauhan lelaki yang menanti di kafe sebelah. Hatinya hancur oleh sebuah kata, kesetiaan.
Dari sisa ketegaran yang berserakan, wanita berblazer putih itu masuk ke kafe Nuansa Hijau. Anggun langkahnya sedikit gontai karena kecewa. Hans terpana saat wanita berblazer putih datang menghampiri. Dia adalah tunangannya yang bulan depan akan dia nikahi.
“Akulah wanita bernama Lidya itu, dan aku lah yang sudah hadir di dunia mayamu sejak dua bulan lalu….” Tatapan mata Pemi tajam menusuk Hans.
“Pemi……, jadi kamu adalah…… Lidya itu….?” Hans tercekat.
“Benar, Hans. Aku adalah Lidya itu. Terimakasih untuk semua yang telah kau beri. Rasa ini telah cukup mengerti sebatas mana kesetiaan itu ada diantara kita, selamat tinggal” Pemi berlari menyembunyikan tangisnya yang tertahan.
Hans terdiam tak bisa berkata apa-apa. Kesadarannya hilang bergantikan kalut, dicobanya mengejar Pemi. Tangannya replek menjatuhkan cangkir cappuccino.
Praang…. Cangkir hancur berkeping di lantai, seperti hancurnya hati Pemi.
“Pemi………..!!” Hans berteriak dalam galau.


Bacanya bisa di sini juga lho...

Mata Nada

mata dari siraitbrothers.blogspot.com
mata dari siraitbrothers.blogspot.com



>> Uleng Tepu <<



Seperti hari lalu, ayah begitu tekun dengan pekerjaannya. Mengirim laporan via email kepada bossnya. Komputer tua tidak pernah menggerutu menemaninya menghabiskan malam. Begitu tekun.

Kemarin…
“Nada, kok bangun? mau kemana, Nak?”.
“Mau pipis, Bu”.
Ayah masih betah duduk di depan komputer bututnya.
“Ayah, Nada mau pipis”. Layar komputer berubah warna putih penuh tulisan.
“Sini sayang, ayah temani”. Ada yang berkedip di komputer.
Kembali ayah menatap layar segi empat. Aku menguap. Layar komputer berubah. Ehh….??

Malam ini…
Adik sakit, panasnya tinggi. Ibu tak bisa jauh darinya. Tangisnya akan menghiris jika ibu beranjak.  Hanya usapan lembut ibu dan ASI yang mampu menenangkannya.  Malam mulai larut, aku pura-pura tidur sambil mendengar percakapan ayah dan ibu.
“Ayah, kok selarut ini belum tidur?”.

[Shutt down]

“Bu, saya harus mengerjakan pekerjaan proyek. Via e-mail kata bos”
“Iya, pekerjaan Ayah selesaikanlah. Anak kita butuh uang ke dokter”. 
Ayah berbaring disampingku. Matanya tidak mengatup sempurna. Dipeluknya tubuhku. Bayangan usai shalat magrib tadi kembali tersaji.
Komputer berkedip, kata “sayang” t erkirim



Bacanya juga bisa di sini

Lelaki di Seberang Maya

>> Andi Harianto <<

Seperti kemarin. Hari ini, juga lusa. Keindahan mu hanya bayang.  DIRIMU, selalu yang melintas. Kutakut pagiku, karena malam membuatku lalai. Aku akan terus menyapamu. (chat box)
“Ayah! Kok, selarut ini engkau belum tidur?”
Turn Off Computer.
1291737568885788406
Rizal, bersegera masuk ke kamar. Empat anaknya sudah lelap tertidur. Si Bungsu, mengigau
“Bu, saya harus selesaikan pekerjaan proyek. Via email kata bos”.
“Iya, pekerjaan Ayah. Selesaikanlah. Anak kita butuh uang ke dokter”
Dialog berhenti. Nila istrinya, lelah. Kembali tertidur. Sedari tadi si bungsu rewel. Demamnya tinggi. Rizal pun memaksa diri terlelap. Bayangnya bercabang. Ada pesona gadis chat, pada yang mengaku perawan. Putri kecilnya sakit. Tidurnya diantar khayal maya. Semu, ekstase. Fasad.
*****
Lalu, di seberang maya sana.
“Kok chatnya, diputus begitu saja. Ditutup gombal lagi” Dewi bersungut jengkel.
A network cable is unplugged. Shut Down

Dewi pun masuk kamar. Lelah dia, dengan hidupnya. Dia dan dua anaknya ditinggal pergi suaminya. Juragan Karet.



Baca juga di halaman ini

Ijab Qabul

>>> Uleng Tepu <<<




Lantunan nasyid lembut mengalun. Setengah jam lagi akad nikah. Bisa kubayangkan bagaimana tegangnya lelakiku di luar. Sebentar lagi ia mengucap ijab qabul.


Ibu masuk ke kamarku.
“Dizty, kamu sudah siap, Nak?”
“Insya Allah, Bu.”

Kuingati beda antara aku dan dia. Dia rupawan, aku ah… kenangan malam kebakaran dua tahun lalu membuatku bersyukur dengan wajahku yang katanya cantik. Dia seorang hafidz, penghafal Qur’an, sementara aku masih harus menambah rekaman juz amma di kepala. Dia pandai melukis meskipun dia tak sempurna,  sedang aku…sebuah garis lurus selalu patah di tanganku. Dia romantis, aku egois. Dia… Dia….dan Dia….

Dia adalah lelaki yang dipilihkan Tuhan untukku…

“Alhamdulillah, sah!” Kalimat itu jelas terdengar. Do’a dipanjatkan. Lelaki itu masuk ke kamar.Duduk di hadapanku. Aku memandangnya haru.
Tak satupun tangannya yang mampu kuciumi…
minjem dari noveloke.com


Singgah baca di halaman Uleng

Kuterima Apapun Dirimu

Oleh : Indri Permatasari


12919543161051042718Ada yang berubah dari paman petani sekarang, tak pernah lagi keluyuran bila tak terpaksa.Waktu selalu dihabiskan di rumah semenjak kedatangan tessa, paman memang jatuh cinta pada pandangan pertama, wajarlah, karena tessa memang menawan walaupun kulitnya tidak putih, tapi ,terawat, bulu matanya lentik dan tubuhnya montok. Paman selalu bersemangat bila bertemu dengannya, apalagi sejak kehamilannya, walaupun bukan darah dagingnya tapi paman tetaplah suka,tak akan segan paman bercerita tentang kesehariannya sambil sesekali mengelus kepala tessa dengan penuh kasih sayang, dan tessa pun hanya diam menatap paman dengan penuh cinta.
Ahh Hari ini paman sibuk dan gugup sekali, apa????ternyata tessa melahirkan…sayang anaknya lelaki… ahh tapi tak mengapa, paman tetap bersenang hati, ia pun menggendong dan memindahkan anak tessa ke tumpukan jerami yang lebih tebal dan hangat di samping ibunya yang cantik ……



Singgah baca juga di sini...