Rabu, 05 Januari 2011

Jadilah Koruptor

Oleh:  Ramdhani Nur

Suatu saat di dalam bis kota, saya tidak ingat kapan, tapi saya menyukai kejadian dan pembicaraan yang berlangsung dengan seorang penumpang di sebelah saya. Lelaki baya kantoran yang berkaca mata. Dalam pandangan saya dia adalah seorang nasionalis yang menggebu ketika perbincangan bergulat seputar kondisi negara dan pemerintahan saat ini.

“Kalau anda cukup kesempatan dan kedudukan, jadilah koruptor!” begitu kira-kira yang dia ucapkan selepas membaca headline di koran yang saya bawa. “Sial-sialnya anda akan tertangkap dan dihukum 10 tahun penjara. Tunggu saja beberapa tahun, anda akan bebas dan ada kemungkinan malah lepas dari predikat koruptor. Plus harta anda tak kan banyak berkurang.”
Saya tertawa mendehem.
“Saya lebih suka jadi jaksa kalau memungkinkan,” lanjut saya berseloroh.
“Oh… jangan! Jaksa itu jabatan mulia. Dalam konstalasi hitam dan putih, jaksa itu golongan yang putih. Dia membela kepentingan dan keadilan masyarakan. Kalau mau jadi bajingan ya bajingan saja jangan jadi malaikat yang bajingan. Hahaha!”
Saya ikut tertawa. Mungkin juga penumpang lain yang sempat mendengar.
“Lebih baik jadi polisi!” katanya kemudian.
“Dia bajingan atau malaikat?”
“Mereka itu manusia seperti kita. Bisa melihat hitam dan putih, bisa menjadi malaikat dan bajingan. Mereka cuma mencari penghidupan yang layak dalam isntitusi mereka.”
“Jadi mereka selama ini miskin-miskin?”
“Ya, makanya mereka sibuk menggendutkan rekening mereka.”

Tawa kembali pecah. Hampir lima belas menit kami berbincang dan sepertinya dia menikmati betul kehangatan percakapan ini. Sampai-sampai halte yang dia tuju pun hampir terlewat. Dengan tersenyum dan aura semangat yang tersisa dia kemudian turun.

“Jadilah koruptor!” salamnya sebelum benar-benar turun.

Lima menit setelah bis benar-benar melaju, saya baru berani mengeluarkan tangan saya yang saya tutupi koran sejak tadi. Sebuah dompet kulit coklat lengket di genggaman. Uang tunai 420.000 rupiah, beberapa kartu identitas dan atm tersangkut di dalamnya. Yah lumayan untuk satu hari itu. Satu hari yang berkesan


Ah, maaf Pak! Saya belum bisa jadi koruptor.
Cirebon, 26 Agustus 2010


Dapat juga dibaca di sini

Taubatnya Sang Bocah Ingusan 1 (ECR 65)

Seorang lelaki siapkan diri hadapi mati
Merasa hidup tak ada arti
Cah ingusan menyerah buyarkan mimpi
Sambil memejamkan mata sang bocah melepaskan pijakan kakinya, yang kemudian membuat lehernya tercekik kencang oleh jeratan tali.
Kakinya mengejang, wajahnya mulai membiru dan matanya terbuka melotot. Tampak benar ia menahan kesakitan yang luar biasa. 
Pandangannya mulai gelap, ketika ia merasakan tubuhnya jatuh terhempas keatas tanah. Ia tersengal sengal , nafasnya kencang memburu.
Ketika penglihatannya mulai kembali normal, samar samar ia melihat wajah wajah aneh mengelilinginya.
” Hah, ternyata rupa malaikat seperti ini?, beda tipis dengan kambing, mengapa tak kalian cukur jenggot kalian, bukankah disurga adalah tempatnya kerapihan dan keindahan? “
Wajah wajah itu tersenyum, sambil menggelengkan kepala.
” Wahai saudaraku, kami bukan malaikat, kami hanya manusia biasa, dan kau belum masuk ke surga, kau masih hidup, dan ketahuilah, kalau kau mati dengan cara begini, kau tidak akan masuk ke surga. Karena bunuh diri adalah dosa besar, yg sangat dibenci oleh Sang pemilik surga. Pasti ente dicemplungin dulu ke neraka. “
” Ah masa bodo lah, kayak kalian dah pernah mati aja.., jangan ganggu aku, biarkan aja aku mati.., hidupku sudah tak ada arti.”
Sang bocah menyambung tali yang tadi diputuskan oleh orang orang tak dikenal tersebut, dan kembali mengalungkan simpul tali ke lehernya.
“Ya sudah kalau kau tak percaya, selamat menikmati siksaan di neraka, tubuhmu akan dibakar hidup hidup sampai otakmu mendidih, sampaikan salamku pada malaikat penjaga neraka.”
Mendengar itu sang bocah mulai ragu meneruskan rencananya untuk bunuh diri, karena jeratan tali saja ia sudah merasakan kesakitan yang luar biasa, apalagi dibakar hidup hidup.., hiii… serem….
Sang bocah tertunduk.., air mata menetes di pipinya.
Sungguh malang nasibku ini
Hidup di bumi seorang diri
Jalani hidup tak berarti
Mati pun ku tak berani
Duhai Tuhan…. tolonglah diriku ini
Melihat kondisi sang bocah, rombongan lelaki itu pun merasa iba padanya.
Hapuslah air matamu dari pipi
Hidup terlalu singkat tuk ditangisi
Persiapkan diri sebelum mati
Jalani hidup berarti bersama kami
Mendengar ajakan tersebut, sang bocah tersenyum.
” Bersama kalian??, apa yang akan kalian kerjakan?, kalau kulihat dari tampang kalian, sepertinya kalian rombongan teroris yang dikejar kejar oleh polisi, aku tak mau terlibat. mendengar petasan aja aku udah takut setengah mati, apalagi ditembaki polisi, bisa bisa aku kencing berdiri.”
“Ha..ha..ha.., kami bukan teroris, orang orang menyebut kami Jamaah Tabligh, kami adalah hamba Allah yang sedang memperbaiki diri, belajar menghidupkan sunah Rasulullah berhijrah kekampung ini, berkorban sedikit dari harta, waktu dan diri kami, semata mata mengharapkan ridho Illahi, sempurnakan iman dihati kami, tuk kami bagikan pada anak dan isteri”.
Hmm…, sang bocah mengernyitkan dahi, hatinya tergelitik untuk mencoba bergabung bersama jamaah ini.
” Aku adalah manusia hina penuh dosa, seluruh penduduk kampung membenciku”.
” Allah adalah zat yang Maha pengampun, selagi kita mau bertaubat sungguh sungguh, dosa kita pasti diampuni”.
” Kalau aku ingin bergabung, apa syarat nya ?”.
” Kau hanya perlu mandi, badanmu bau sekali, kebersihan adalah sebahagian dari iman “
” Tak pakai biaya..??”
” Hanya untuk biaya makanmu saja, itupun kalau kau punya uang, kalau kau tak punya tak mengapa, saudara saudaramu ini dengan senang hati akan berbagi padamu”.
Setelah sang bocah mandi, ia diberikan sepasang baju ghamis berwarna putih dan sebuah kopiah putih dipasangkan di kepalanya. Sang bocah tersenyum, ia merasa dirinya seperti seorang ulama besar.
” Ingat saudaraku, tujuan kita berdakwah adalah memperbaiki diri kita sendiri, bukan untuk memperbaiki orang lain, kita hanya berusaha, urusan hidayah ada di tangan Allah, sekarang mari kita menuju ke masjid di kampung ini, kita harus meminta izin dulu dengan aparat desa, kau pasti tau dimana letaknya “.
Sang bocah menggangguk, dan memberi aba aba kepada rombongan agar mengikutinya ke rumah pak Kades, yang kebetulan letaknya berdekatan dengan masjid.
Ketika memasuki gerbang desa, sepasang mata Rizal sang wartawan mengawasi rombongan jamaah dengan curiga. Setelah menjepret beberapa kali, ia kemudian berlari memasuki kampung menuju ke pos ronda.
Warga desa Rangkat memandang sinis pada sang bocah, mereka merasa heran dengan penampilan baru sang bocah ingusan. 
Beberapa gadis Rangkat yang sedang asyik bergosip ria mencibir pada sang bocah.
Dewi solihat : ” Hai bocah, baru kesambet geledek ya..?”
Dwi astini : ” Makanya cah.., jangan main main di hutan, tuh kan jadinya kesambet jin..”
D-wee : ” cuiit..cuiiiit.., cah ingusan jadi kyai euy.., awas jangan jadi kyai cabul ya..!! “
Zwan : ” hey bocil.., ntar malem godain aku ya.., pasti aku gak nolak..”
Mendengar cibiran cibiran gadis Rangkat sang bocah hanya tertunduk diam, ingin rasanya ia berlari lagi keluar kampung, namun hatinya dibesarkan oleh pimpinan jamaah agar ia bersabar. Ini adalah ujian.
Ketika melewati depan rumah jeng Pemi, sekilas mata sang bocah beradu pandang dengan mata dewa yang kebetulan sedang melongo di jendela. Gadis itu terkejut, namun ia hanya terdiam. Sang bocah menghampiri ke jendela.
” Maafkan aku Dewa…, Aku memang bersalah, aku tak pantas lagi berdekatan denganmu, aku kan selalu berdoa untukmu, mudah mudahan hidupmu bahagia selamanya bersama pria yang ada di dalam hatimu.”
Dewa hanya membisu. Tiba tiba dari dalam rumah muncul jeng Pemi berlari keluar sambil memegang seikat sapu.
” Dasar bocah gila, mau apalagi kau kemari…??, rasakan hadiah dariku..!! “.
Dengan membabi buta jeng Pemi memukuli cah ingusan dengan menggunakan seikat sapu lidi.
Sang bocah hanya berdiam diri pasrah. 
Dari arah utara terlihat mas Hans datang bersama pak Thamrin. Dua sejoli ini selalu cepat tanggap mengatasi perkara yang terjadi di desa.
Mereka bersiap siap dengan pentungan nya membantu Jeng Pemi, namun ketika mereka melihat rombongan jamaah yang sebahagian memegang tongkat panjang, mereka tersentak kaget.
Jeng Pemi berteriak.
” Ayo tunggu apalagi mas Hans, hajar dia..!! “.
Mas Hans geleng geleng kepala.
” Ogah ah.., pentungan mereka lebih besar, bisa bonyok muka kami, jangan jangan mereka juga membawa bom…, takut ah…, ayo… lariiii…. “.
Akhirnya hansip hansip itu pun berlari menuju kerumah pak Kades.
Mendengar kata bom, jeng Pemi pun berlari masuk kedalam rumah nya langsung bertiarap di bawah kolong tempat tidur sambil berteriak.
” Tiarap Dewaaa………., ada booom…..!!!! “.
Dewa hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Jeng Pemi yang Ketakutan.
Warga pun menepi membiarkan rombongan cah ingusan melanjutkan perjalanan.
Dua orang Bu guru pun menyapa sang bocah,
Miss rochma : ” Nah.. begitu dong cah ingusan..,segera bertobat dan jangan berbuat onar lagi ya..!!, ntar ibu sunat lho..!! “.
Pricess E Diary : ” Jangan nakal ya cah…, kalau nakal nanti ibu jewer belalainya.., eh…telinganya..!! “.
Sang bocah pun hanya tersenyum sambil mengangguk anggukan kepala.
Disela perjalanan cah igusan bertanya,
” Mengapa kita harus berpenampilan aneh seperti ini..?? “
Sang pemimpin jamaah pun menunjuk kepada seorang warga yang kebetulan sedang duduk diseberang jalan. Rambutnya kribo, bercambang lebat, memakai pakaian bermanik manik gemerlap sambil bernyanyi dan memainkan gitar.
” Kau lihat orang itu..??, mengapa ia berpenampilan seperti itu..?? “.
” Karena ia begitu mencintai Rhoma Irama..!! “
” Nah begitulah manusia, cenderung meniru sesuatu yang menjadi idolanya. Nah.., sebaik baik idola Kaum Muslimin adalah Rasulullah SAW, makanya kita juga belajar mengikuti suri tauladan Rasulullah SAW dalam segala aspek 1 x 24 jam.
” Oooo…!! ” 
Cah ingusan hanya manggut manggut, kelihatan masih bingung tapi sok paham.
Ketika melewati pos hansip,tanpa sengaja sepasang mata sang bocah beradu pandang dengan seorang wanita berjilbab yang sedang duduk melamun seorang diri. Wajahnya begitu teduh dan keibuan. Sangat jauh berbeda dengan kebanyakan gadis Rangkat yang centil centil. Dia adalah Ningwang D Agustin, janda kembang yang baru pindah ke desa Rangkat.
Sang bocah memandang lekat dengan terpana. Dalam hatinya ia membathin ,
” Mudah mudahan aku mendapat jodoh seorang wanita shaleha seperti dirinya..”
Tiba tiba sebatang tongkat hinggap dikepalanya. ” TOKK..!! ” pimpinan jamaah memukulkan tongkatnya ke kepala sang bocah sambil membentak,
” Katanya mau bertobat.., kamu harus menjaga pandangan, tak boleh memandang wanita yang bukan muhrim.., dosaaa…!!!!!! “
Cah ingusan pun insaf, ia terus berjalan dengan menundukkan pandangan. Dalam hatinya ia berniat akan mendatangi sang janda setelah nanti program taubat nya selesai.
Ketika sampai didepan rumah pak Kades, ternyata disitu sudah ramai warga berkumpul. Rupanya berita kedatangan bocah ingusan bersama jamaah tabligh yang dikira teroris sudah tersebar keseluruh warga desa.
Dengan cermat pimpinan jamaah pun membuka suara.
” Assalamualaikum pak kades, kami satu rombongan dari desa sebelah, berniat silaturahim kepada saudara saudara kami di desa ini, dan kami minta izin untuk beritikaf di masjid ini selama 3 hari. kami hanya menjalankan program dakwah dan tabligh, dan tidak ada bermaksud lain”.
Pak kades tersenyum sambil manggut manggut, 
” Oooo…., ternyata jamaah tabligh tho..??, saya kira teroris beneran, mas hans..!!, lain kali kalau bikin laporan yang bener, jangan asal main tuduh saja. Mereka bukan teroris, gerakan jamaah ini hanya berdakwah dan sudah memasyarakat di seluruh dunia. Mari pak.., silahkan..!!, saya sebagai kepala desa menyambut baik kedatangan anda anda sekalian, dan mudah mudahan bisa memberi manfaat bagi warga disini. terutama itu tuh.., bocah ingusan.., mudah mudahan ia bisa kembali ke jalan yang lurus, gak jadi tukang colek lagi..!! “.
Rombongan jamaah pun memasuki masjid dan disambut oleh mas Hikmat nugraha sebagai pengurus Masjid.
Selama 3 hari cah ingusan belajar ilmu agama dibimbing oleh jamaah tabligh. Mulai dari menghidupkan sunnah Nabi selama 24 jam, belajar kitab hadits, tajwid membaca Al quran, sambil belajar berdakwah.
Tibalah giliran sang bocah untuk menjadi pembicara dalam program dakwah pintu ke pintu. Tubuh nya gemetar karena harus mengetuk rumah besar milik Juragan Rawa yang terkenal sangar.
” Tok..Tok..Tok.. , Assalamualaikum….”
” Wa alaikum salaaam…!! “
Ketika juragan Rawa muncul didepan, sebagai adab yang muda kepada yang tua sang bocah pun cepat menyalami dan mencium tangan juragan Rawa, kemudian berkata,
” Alhamdulillah Gan.., Allah pertemukan kita sore ini. Ini adalah takdir dari Allah, karena tak sehelaipun daun di tengah hutan jatuh kebumi melainkan atas kehendak Allah. Sesungguhnya kita bersaudara, di ikat oleh kalimat Laa ilaa ha illallaah. Karena kita bersaudara maka ada hak dan kewajiban diantara kita, yaitu apabila jauh maka kita saling mendoakan.., apabila dekat maka kita saling bersilaturahim, kunjung mengunjungi, ajak mengajak perkara kebaikan dan ingat mengingatkan perkara akhirat. Kita hidup di dunia sebentar saja, suatu saat kita pasti mati. Di akhirat nanti kita perlu bekal yaitu iman dan amal shaleh. Saya sebagai yang muda banyak khilaf salah dan dosa, maka dalam kesempatan ini saya memohon maaf kepada Agan, agar tak ada tuntutan diakhirat nanti. Mari Gan, sekarang di masjid ada ceramah agama, kita sama sama belajar dan mendengarkan..”
Juragan Rawa yang masih terkejut hanya diam mendengarkan sambil mengangguk anggukan kepala pertanda kearifan yang ada pada dirinya. Tiba tiba ia tersenyum manis dan kemudian berjalan bergandeng tangan bersama sang bocah ingusan menuju ke Masjid.
Disaksikan oleh Pak Yayok, Mommy, Refo, Lala dan mas Hikmat nugraha.
Selesai sudah program 3 hari dari jamaah tabligh di desa Rangkat, tiba waktunya perpisahan yang memilukan. Setelah mendapatkan wejangan yang cukup panjang, akhirnya cah ingusan memeluk mereka satu persatu dengan berderai air mata.
“ Alhamdulillah.., mudahan Allah neridhoi kalian saudara saudaraku, terimakasih telah menunjukkan jalan yang lurus padaku. Kalian telah menyelamatkan hidupku di dunia dan akhirat”.
Dilepas oleh Pak Yayok, rombongan jamaah pun berlalu meneruskan perjalanan dakwah nya ke kampung berikutnya.
Sekarang cah ingusan telah memasuki babak baru kehidupannya, kemana mana ia selalu berpenampilan islami, dengan kopiah tak pernah lepas dari kepalanya, dagunya pun telah ditumbuhi beberapa helai janggut.
Disuatu pagi yang cerah, cah ingusan berjalan jalan keliling kampung, ada sesuatu dihatinya yang selalu terbayang setiap malam, sesosok wajah syahdu sebagai pelipur rindu.
Ditempat yang sama, di bangku pos ronda, sesosok makhluk indah sedang duduk termenung seorang diri. Kebetulan pagi itu sepi, para hansip baru aja pulang setelah ronda semalam suntuk.
Sang bocah duduk di bawah pohon rambutan tak jauh dari tempat Ningwang duduk. Teringat pesan dari sang ustadz, cah ingusan tak berani memandang wajah Ningwang, sang bocah memandang ke langit duduk membelakangi Ningwang.
Terdengar sayup sayup Ningwang melantunkan beberapa bait syair,
Sengaja aku merangkul sepi
Demi menjajaki makna diri…
Sudahkah aku berarti?
Sudahkah cinta ini memberi?
Sengaja aku merangkul senyap
Demi memaknai segala yang telah kuucap…
Adakah aku memberi harap?
Ketika asa erat mendekap
Dan kini…,
Aku dirangkul sepi, 
Sang bocah meresapi lantunan kata kata yang mengalir dari bibir Ningwang, tanpa sadar cah ingusan membalas tembang Ningwang.
Dalam sunyi mencari nilai diri
Terjerat lalai terpenjara dalam mimpi
Sadari diri hampa cinta sejati
Hati binasa terbunuh sepi
Asa melayang hadirkan bayang bayang
Muncul sejenak semoga tak menghilang
Harapkan diri dapatkan kasih sayang
Bidadari surga yang bernama Ningwang
Menunggu mati di bumi yang sepi
Terasa hampa seorang diri
Izinkan aku wujudkan niat suci
Menyunting dirimu sebagai permaisuri
Ningwang terkejut mendengar suara dari arah belakang nya, ia menoleh dan melemparkan senyum penuh arti. Tak dapat menahan diri cah ingusan mengarahkan pandangannya pada Ningwang. Terasa angin surga berhembus, dunia terasa damai, alam semesta bernyanyi riang. Cah ingusan gemetar, jantung nya berdegup keras serasa mau copot.
Tiba tiba cah ingusan berdiri dan berlari kencang sambil berteriak,
“ Aku akan datang melamar muu…, Tunggu aku……!!!! ”.
——————————B E R S A M B U N G————————————————

Tags: desarangkat
Sebarkan Tulisan:

Kembang Dalam Sepi (Episode Cinta Rangkat #64)

Setelah Kejadian di warung gadho-gadho milik Nisa (ECR 11/) Ningwang Janda Kembang diliputi resah.Sang Penyair pergi (ECR 20), Refo entah kemana, dan Daeng pun ikut-ikutan mundur padahal menyatakan cinta pun belum (ECR 56).Kembang duduk sendirian di pos ronda. Mas Hans yang ceria sedang meriang, jadi pos ronda sepi. Sesepi hati Kembang.
Sengaja aku merangkul sepi
Demi menjajaki makna diri…
Sudahkah aku berarti?
Sudahkah cinta ini memberi?
Sengaja aku merangkul senyap
Demi memaknai segala yang telah kuucap…
Adakah aku memberi harap?
Ketika asa erat mendekap
Dan kini…,
Aku dirangkul sepi,
“Tak tahukah mereka bahwa aku ingin menyembuhkan luka?”, Kembang menggumamkan kesepiannya. Ya, tujuannya ke Rangkat adalah untuk menyembuhkan luka. Memang didapatkannya damai dan bahagia itu di Rangkat. Pesona Desa Rangkat begitu sulit ditolak. Tapi kini dilema asmara mengurungnya dalam senyap.
Antara bingung dan tidak siap. Bingung mana yang sungguh-sungguh memilik rasa pada Kembang. Tidak siap karena trauma menjanda.
Teringat puisi dalam lipatan Origami dari Rey…
Origami Nomor 3
“Engkaulah bidadari itu…
Bersayap putih bermata jeli
Buyarkan sepi…
Hilangkan lara di hati”
Origami Nomor 4
“Pelangi beredar di hadapanku
Bulan dan Bintang bersinar menyapaku
Anggunnya dirimu membekas dalam kalbu
Sebuah keindahan yang hilang dariku?”
Teringat Refo….
matamu, tatapanmu,
menarik biarkan hati rasaku masuk
inginku meraih dan meringkuk padanya,
mengintip pesan samar bias indahnya,
bertahta kekal tak lekang waktu di sana”
_^_
matamu, tatapanmu,
meruntuhkan ego angkuh kelaki-lakianku”
”Ijinkan aku mendarat di hatimu setelah pengembaraanku”, ujar Refo kala itu
~~~00~~~
“Dorr… hayo nglamun terus..”,
Tiba-tiba blitz kamera membuyarkan lamunan Kembang. Rizal Repotter Desa Rangkat rupanya.
“Lama banget sih Mas Rizal?”, kata Kembang manja.
Mereka berdua memang janjian di pos Ronda. Mereka berdua merencanakan tema foto untuk pre wedding Uleng dan Paman Petani. Rizal yang memilih lokasi foto di desa Rangkat. Ningwang yang akan memilihkan outfitnya. Kalau sudah ketemu ide yang oke, proposal akan segera diajukan pada Uleng dan Mommy.
“Maaf ya…., tadi mampir dulu ke klinik Mas Ade. Dia minta poto-poto untuk iklan di Kompasiana”, kata Rizal sambil mengutak-atik kameranya.
“Gorengannya mana?”
“Waduh…. ketinggalan di klinik Mas Ade!!! Sebentar ya? tak ambil dulu….,” tanpa mendapat persetujuan Kembang, rizal segera berlari meninggalkan pos Ronda. Saking tergesa-gesa Rizal lupa kalau tadi dia ke pos Ronda naik motornya.
Kembang geleng-geleng.
Sepi….
Lagi….


Tags: episodecinta, desa rangkat, flash fiction
Seba

Kampung Tersembunyi…(Episode Cinta Rangkat # 63…)

12942157341008426050
Dari balik jendela kamar kos zwan yang berada di lantai 2, zwan memandang langit yang cerah dan semilir angin pagi yang membuat penlihatannya tak mau lepas dari pemandangan indah gunung naras. Entah akan kedatangan siapa lagi desa rangkat yang elok dan penuh dengan kehangatan ini, sehingga iapun tak ingin kembali ke kota asalnya dan memilih tinggal di desa rangkat. Seminggu setelah perjumpaan zwan dengan miss rochma, zwan memutuskan untuk menyewa kamar kos di tempat miss rochma tinggal. Dengan seizin mommy dan pak kades akhirnya zwan diperbolehkan untuk tinggal di desa rangkat.
Cuaca yang cerah disambut dengan hati yang gundah karena masih shock dengan kabar kedekatan mister GPS dengan putri narsis, zwanpun bergegas mengambil tas ranselnya dan meninggalkan kos. Tiba-tiba ia bertemu dengan miss rochma yang sedang menyemir sepatuhighheelsnya bersiap pergi mengajar.
“Pagi miss……mau ke pasar ya, kok nyemir sepatu” sapa zwan sambil menggoda miss rochma
“Ngawur kamu, oh iya..pagi zwannnn..wong mau pijet ke jeng pemi kok, masak kalah sama jeng pemi hahahaha” ujar miss rochma sambil tertawa dan sesekali mengelap sepatu kesayangannya
“hahahahaha…ada-ada aja, salam ya buat jeng pemi…eh, miss kalo ada guru yang manis..boleh dongggggg hahaha..just kidding!!!” ujar zwan genit sambil tertawa
“Husssttt, dasar kamu..iya nanti tak sampaikan ke jeng pemi. Kamu mw ke mana??pagi-pagi dah bawa ransel gitu…mbolang lagi???”Tanya miss rochma dengan wajah heran
“Hehehehe…iya,sumpek miss…jalan-jalan aja keliling desa siapa tau ada yang clingggggggg…..ihhierrrrrrrrr!!!!!!!!!Duluan yaaaa, bubbye..assalamualykum..!” jawab zwan sambil meninggalkan miss rohma dengan lambaian tangan
“Haaaaaaaaaaaaa,jahat ndak ngajak2…awassss ya!!!!wa alaykumsalam…” teriak miss rochma dengan muka cemberut, huft…!!!
Pelan-pelan zwan berjalan menikmati indahnya cuaca rangkat pagi ini, tak lupa MP3 selalu ia bawa dan dengarkan. Dalam hatinya ia ingin menghilangkan kegundahannya denganberjalan mengelilingi desa yang selama ini ia tempati. Sampai di depan warung kopi mas budi yang masih sepi hanya 5 orang saja yang bercengkrama dibawah pohon, zwanpun iseng menyapa dan mendekati warkop tersebut.
Sugeng enjing sedoyo (selamat pagi semua)…..” ujar zwan sok kenal sok dekat sambil cengar cengir. Tiba-tiba Ia mampir karena dari jauh arom bau kopi khas sudah tercium hingga ubun-ubun.
“Mas budi kopi 1…” ujar zwan dengan pedenya. Sontak beberapa warga yang sedang dudukpun tertawa
“hahahaha….saya mas hans mbak bukan mas budi, sejak kapan pentungan pindah ditangan mas budi” ujar mas hans sambil tertawa
“hadduh,maaf…warga baru jadi ya nddak tau mas hehehe” ujar zwan dengan wajah biru jingga dan sedikit malu
“Ini mbak yang punya restoran kopi mewah ini, namanya mas budi…ayo kenalan???hahahaha”ujar mas hans sambil menggoda mas budi dan zwan
“iyha hehe…saya zwan mas warga baru dari negri diatas langit, Malang…”
Setelah zwan berkenalan dengan para kopiner rangkat, ada mas budi, mas hans, rey, mas hikmat, dan mas lala. Zwanpun meneruskan perjalanan kembali mengelilingi desa rangkat. Tak lamapun zwan baru tersadar ketika tiba-tiba ia melihat jam tangannya, ternyata sudah 3 jam ia berjalan.
“Wowwww, jauh juga….capeknyaaa….” Ujarnya lirih
Zwanpun meneruskan perjalanannya menuju satu rumah yang tak jauh dari penglihatannya, sesampainnya di rumah tersebut zwan mencari penghuni rumah dan ia tak menemukan orang satupun. Berbeda jauh dengan kondisi rumah di desa rangkat, kali ini rumah tersebut terbuat dari kayu hutan dan atapnya dari daun seadanya. Saat duduk diteras rumah usang tersebut, tiba-tiba ada spasang suami istri dan 2 anak berjalan menuju arahnya. Satu masih di gendong, satunya lagi sudah bisa berjalan. zwanpun berbincang dengan keluarga itu, tidak disangka ternyata mereka sudah hampir 20 tahun berada di daerah tersebut. Tidak hanya keluarga mereka saja yang tinggal disitu melainkan ada + sekitar 21 kepala rumah tangga. Warga asing ini tidak pernah turun gunung, dulu mereka tersesat, tidak tahu jalan akhirnya mendirikan rumah di puncak gunung naras dimana jarak antara desa rangkat dengan perkampungan tersebut + sekitar 30 kilo. Zwan tidak tega melihat kondisi fisik dan rumah mereka, sepertinya zwan harus bergegas turun dan kembali ke desa rangkat untuk segera memberitahukan hal ini ke pak kades dan warga.
Sesampainya di desa rangkat zwan langsung menuju rumah pak kades, ia ingin menyampaikan kabar tesebut.
“Mom….” Teriak zwan sambil sesekali mengintip ruang tamu dari balik jendela
“Mommy….pak kadesss….ulenggg…..mas tani…..” teriak zwan dengan suara keras
“Ada apa zwan teriak-teriak???pada keluar semua kayanknya, jadi sepi…” sapa dewa yang sengaja keluar dari dalam rumah
Kebetulan ada dewa, zwanpun langsung menceritakan pertemuannya dengan warga di perkampungan puncak gunung naras tersebut. Dewa heran, karena yang ia tahu desa rangkat inilah satu-satunya desa yang ada di puncak gunung naras.
“Hahhhh????yang bener zwan..???” Tanya dewa dengan ekspresi wajah heran dan kaget
“Iya wa….aku juga tadi ndak sengaja kok nemuin itu” dengan wajah letih
“Yaudah, nanti aku sampaikan ke pak kades ya zwan…kamu sekarang pulang aja dulu, kok kayaknya lemes banget. Mau jamu???Ini ada jamu, bawa aja aku buat sendiri dari toga dibelakang rumah….” Ujar dewa sambil memasukkan botol jamu ke dalam tas plastik
“Makasih ya wa….gratis kan???hahahaha…” ledek zwan meninggalkan dewa
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
<< Just try to imagine,.,.,>>
Malang, 5 Januari at 16.10 pm

Tags: fiksirangkat, hmzwan, desarangkat
Sebarka

Angan-angan (Episode Cinta Rangkat #62)

Sudah beberapa hari ini Miss Rochma malas keluar dari kosnya. Setelah mengajar di MTs, kos jadi tujuan pertama dia pulang. Padahal biasanya, Miss Rochma mampir dulu ke rumah warga-warga desa Rangkat untuk sekedar bertegur sapa atau memberikan informasi yang berhubungan dengan pengembangan pendidikan di desa Rangkat.
Ada enggan yang tinggi sekarang. Suasana hatinya selalu murung beberapa hari ini. Kejadian di rumah Juragan Rawa ternyata masih membekas sampai sekarang. Cemburu yang dirasanya ternyata terlalu besar sehingga membuat bekas pada hatinya yang mulai berbunga-bunga karena karisma Juragan Rawa. Ada galau yang dirasa olehnya. Juragan Rawa bukan miliknya, dia masih berkelana mencari penyejuk hatinya disela-sela kesibukannya mengurus segala kekayaan miliknya. Sudah menjadi kabar warga kalau Juragan Rawa banyak pilihan wanita dalam pikirannya. Jeng Pemi, Putri Narsis, Rena dan entah siapa lagi. Lalu apa hak Miss Rochma untuk cemburu?
Ketika sedang tidur-tiduran di kasur kosnya yang tidak empuk, handphone miliknya berbunyi. Lagu Hot ‘n Cold milik Kety Perry yang dipasang untuk dering sms berbunyi keras mengagetkan pikirannya yang terbuai lamunan tentang Juragan Rawa. Dengan malas Miss Rochma membuka sms dan langsung terlonjak karena terkaget-kaget siapa yang mengirim sms ke dirinya.
Miss, kok nggak ke rumah Agan lagi? Ayo nyiapain lagu buat Uleng sama Paman Petani, Tyas dah nyiapain beberapa lagu
Gemetar tubuhnya mendapat sms dari pujaan hatinya tapi tidak tahu harus dibalas dengan kalimat seperti apa. Ingin rasanya bertemu karena rindu tapi juga malas karena masih ada cemburu. Dibiarkan sms dari Juragan Rawa yang baru diterimanya dan dilempar handphone miliknya ke atas kasur. Tapi tak lama kemudian, lagu Kety Perry terdengar lagi dari handphonenya.
Miss, kok sms Agan barusan nggak dibalas? Ditunggu sama Tyas lho di rumah Agan. Di sana ada Mommy sama Pak Kades juga buat liat persiapan kita udah sampai mana
“Tuhan, aku bingung. Ternyata cemburuku masih besar dan berpengaruh pada tugasku membuat lagu buat nikahnya Uleng.” Begitu batin Miss Rochma sambil menyisir rambut panjangnya yang tidak rapi karena dari tadi dibuat tidur-tiduran terus. Ketika sedang menyisir rambutnya, terdengar ketukan di pintu kosnya. Dengan malas dia berjalan menuju pintu setelah menyambar jilbab segi empatnya yang berwarna biru laut.
Ketika dibuka pintu kamarnya, Miss Rochma kaget dengan sosok yang ada di depannya. Juragan Rawa berdiri dengan tegaknya. Tampilannya yang selalu rapi, hari ini terlihat lebih santai dengan kaos putih berkerah dan celana jins berwarna hitam.
“Miss, kok nggak dibales-bales smsnya Agan?” Tanya Juragan Rawa langsung ketika Miss Rochma membuka pintu kosnya. Tapi hanya mulut yang menganga yang ada di wajah Miss Rochma karena tidak percaya Juragan Rawa sudah ada di depannya. Padahal baru beberapa menit yang lalu sosoknya hanya ada di angan-angan.
“Ng.. Aku baru bangun tidur Agan.”
“Tidur? Masih sore Miss udah tidur?” Pertanyaan Juragan Rawa hanya dijawab dengan senyum.
“Btw, aku nggak dipersilahkan masuk nech?” Tanya Juragan Rawa karena mungkin capek berdiri terus di depan kos. Dengan terbata-bata Miss Rochma mempersilahkan masuk dan segera kebelakang untuk membuatkan segelas teh hangat.
“Miss, di sini sendirian yah?” Tanya Juragan Rawa sambil melihat sekeliling ruangan kos yang terhitung sempit jika ditempati lebih dari dua orang. Tak lama kemudian Miss Rochma datang dengan 2 cangkir teh hangat.
“Iya Juragan. Kenapa?”
“Nggak papa, tanya ajah.” Jawab Juragan Rawa sambil tersenyum.
“Yah begini ini Juragan kos saya. Nggak seluas rumah Agan.” Jawab Miss Rochma sambil menghidangkan teh hangat di depan Juragan Rawa. Ketika baru duduk di depan Juragan Rawa, terdengar lagu Kety Perry dari handphone Miss Rochma. Setelah pamit sebentar untuk membuka sms, Miss Rochma bergegas ke kamarnya mengambil handphone miliknya.
Bu, besok ibu masuk kan? Kangen lho ketemu sama Ibu
Miss Rochma mendengus membaca sms yang baru saja dia terima. Dari muridnya, perempuan. Yang mulai menunjukkan rasa cinta yang salah jalur padanya.
“Tuhan, cinta kepada Juragan Rawa dan cinta dari muridku ini membuat dilema dalam hidupku sekarang ini. Beri petunjuk-Mu, Tuhan.” Miss Rochma berdoa dalam hati sambil melirik Juragan Rawa yang sedang membuka-buka halaman buku kesayangan Miss Rochma, La Tahzan.

senyum yang mengembang (episode cinta rangkat # 61)

paman arif dengan dada yang berdebar kencang, mengahadap pak yayok dan mommy.
pak yayok dan mommy saling berpandangan.
“Sudah, pak. bapak yang ngomong saja!”
“iya, ya, bu. begini loh, dik arif. sekarang kan bukan jaman siti nurbaya lagi. jadi keputusannya kami serahkan kepada uleng saja!”
“uleng! sini!”
“iya, mami mommy!”
uleng keluar dengan wajah tersipu malu. duduk disamping mommy.
“bagaimana uleng?” paman arif tak sabar menanti jawaban uleng. begitu juga pak yayok dan mommy.
sebuah anggukan lembut dari uleng, membuat paman arif mengembang senyumnya.

Sekilas Cerita Siang Menjelang Sore (Episode Cinta Rangkat #60 )

DesaRangkat - Warnet Nyimas, pukul 14.00 tampak D-wee menjadi sang operatornya. Keadaan lenggang.. sepi.. para klien sibuk dengan komputernya masing-masing. Demikian juga dengan D-wee, entah apa yang diketiknya tetapi seperti asyik sekali. Tadi dia bersama DEWA, ULENG.. sibuk merencanakan dan merancang tentang Klinik Sehat mereka.. dan meski belum bertemu kata sepakat yang 100% kelihatannya Klinik tersebut akan segera terlaksana. Nyimas Herda sebagai tante D-wee sepertinya okey-okey saja, meski jika klinik mulai aktif ada kemungkinan d-wee akan jarang untuk menggantikan dia jaga warnet.. tapi Nyimas Herda emang senantiasa memahami dan mendukung kegiatan-kegiatan yang positif..
Beberapa saat kemudian, terdengar sayup-sayup suara SMS dari HP D-wee yang ditarok di laci. dengan setengah hati D-wee mengambilnya dan membuka SMS tersebut. dan selesai membaca tanpa raut wajah D-wee sedikit berubah menjadi mendung.. padahal saat itu sorot matahari masih menantang menerobos jalanan depan menuju warnet Nyimas-desaRangkat.
Dan efek dari SMS adalah terhentinya aktifitas D-wee di komputer. dia kini matanya menatap tanpa kesan ke arah komputer-komputer yang tengah disibuk-sibukkan oleh para klien Warnet. tetapi itu tak lama karena kemudian ada suara berat menyapa,
“Assalamuallaikum mbak Wee…” sepemilik suara yang berkacamata tersenyum berdiri di samping meja operator.
“wa’alaikumsalam.. eeeh kang Dudi..” balas D-wee sedikit kaget. tadi lamunannya entah berkelana ke mana, sampai-sampai dia tidak mendengar pintu warnet dibuka dan menghantarkan seorang pemuda tampan berkacamata.
“penuh ya Wee..” tanya Dudi yang nama lengkapnya Dudi Rustandi, sambil matanya menjelajahi billing-billing warnet.. mencari yang tidak ada kliennya.
“iya kang.. ” D-wee masih terkesan lesu, entah apa bunyi sang SMS..
“boleh aku menunggu…” eeh ternyata Dudi berniat untuk menunggu saja, dan sepertinya dia memang tengah mencari kesempatan berdua-dua dengan D-wee. hehehehe.. hati-hati yang ketiga.. mbah syai… ton.. lho.
“eeh boleh kang.. ” D-wee menarik sebuah kursi buat Dudi.
tetapi kemudian keduanya berdiam diri, D-wee melanjutkan lamunannya yang terputus, sementara Dudi sepertinya tidak tahu harus bicara apa untuk memecah kebisuan yang tercipta.. sementara udara dalam warnet semakin dingin karena AC dan cuaca panas di luar yang berangsur teduh. dingin itu semakin dingin dan membeku.. satu persatu para klien merapatkan kerah bajunya.. apalagi kemudian rintik hujan turun satu persatu… nampak kelihatan dari kaca warnet yang bening..
“Waah hujan..” D-wee dan Dudi berbarengan buka mulut..
dan keduanya jadi ketawa berbareng.. kompakan sih.. akhirnya keduanya terlibat pembicaraan yang mengasyikan. D-wee pun sepertinya kembali ceria. SMS tadi tak lagi memberi kemurungan di wajahnya, sementara Dudi pun lega, dia menunggu klien lain menyelesaikan kegiatannya tanpa harus dengan kebosanan.. teng.. teng… teng…. jam dinding di warnet Nyimas berbunyi… jam 15.00 WIB…
….+ tamat..+
catt ” nggak ada Image nya ya… lagi nggak ada ide… selain tulisan.. hehehe